|
![]() | |
|
Selected-Works Page |
"BACAAN LIAR": BUDAYA DAN POLITIK PADA ZAMAN PERGERAKAN
|
|
Dari Bacaan, Menuju "Pemberontakan" Untuk menjawab pertanyaan di sekitar kematian "bacaan liar." Tak dapat dipisahkan dari masa-masa menjelang pemberontakan l926-27. Sebagaimana ditunjukan, bahwa "bacaan liar" justru mengalami perkembangan pesat pada tahun-tahun l920-an. Apakah ada hubungan diantara produksi "bacaan liar" dengan pemberontakan melawan diktaktor kolonial tersebut ? Pertanyaan ini untuk menggiring saya ke pertanyaan selanjutnya adakah dalam bentuk maupun isi "bacaan liar" memberikan kontribusi bagi pengkondisian "pemberontakan 1926-27?" Karena dalam bacaan-bacaan tersebut terlihat emosi, keyakinan, ekspresi yang menentang kediktaktoran kolonial. Dan untuk itu juga penting diperbandingkan dengan laporan-laporan kolonial, hal ini penting untuk menduga seberapa jauh pengkondisian "pemberontakan 1926-27" turut diprovokasi oleh negara kolonial. Dan juga bagaimanakah hubungan produksi dan konsumsi "bacaan liar" dengan bacaan yang diterbitkan dan dicetak oleh peranakan Tionghoa? Soal ini juga penting memperlihatkan mengapa penulis dan percetakan peranakan Tionghoa tidak menentang "bacaan liar" dan "mengecam pemberontakan 1926-27?" Untuk soal yang pertama saya akan mempersoalkan hubungan penulis dan pembacanya, sehingga harus dilihat dari ideological formations, yaitu bagaimana ideologi dibangun dari sejarah yang dihadapi, norma, nilai dan gagasan. Selain itu, "bacaan liar" pada satu pihak, merupakan cerminan "pemberontakan" sebagaimana telah ditegaskan di atas."Bacaan liar" mempunyai cog and screw dengan para pembacanya. Selain melukiskan situasi pergerakan, serta eksploitasi kolonial,"bacaan liar" turut mendorong pembacanya untuk berpatisipasi dan bergerak bersama pergerakan untuk menentang kediktaktoran kolonial. Dalam bacaan juga digambarkan perbedaan-perbedaan derajat kolonial yang dihasilkan oleh kedikdaktoran kolonial (periode 1921-1926). Kondisi rakyat jajahan ini jelas bertolak belakang dengan pengetahuan Eropa yang mengajarkan demokrasi dan menuntut ditinggalkannya perbedaan-perbedaan derajat yang telah berukat-berakar dalam tata-susun kolonial. Hikajat Kadiroen , Rasa Mardika, Parlement atau Soviet, Sjair Internasionale, Apa Maoenja Kaoem Koemunist, Penoentoen Kaoem Boeroeh, Kaoem Merah, Ma'loemat Kommunist India, Babad Tanah Djawi, Hilangnja Rasa Ketjintaan oleh Rosa Luxemburg dan Karl Liebnecht, Soerat Terboeka Kepada Kaoem Intellect atau Kaoem Terpeladjar. Meskipun masing-masing penulisnya mempunyai latar-belakang sosial yang berbeda, namun semuanya melukiskan situasi pergerakan dan memantulkan harapan-harapan masa depan tanah airnya. Selain itu tulisan-tulisan ini mengandung penglihatan baru atas dunia, sebagai akibat dari arus pemikiran baru, bacaan-bacaan ini berisi penolakan terhadap gagasan-gagasan lama.Untuk menghubungkan ideological formations antara pembaca dan penulis, saya akan memulai bagaimana para penulis "bacaan liar" didefinisikan oleh bacaan tersebut. Semaoen dalam Penoentoen Kaoem Boeroeh, menegaskan bahwa, "batjaan-batjaan ini oentoek menentang boekoe-boekoe jang menjesatkan pemikiran para pembatjanja", lebih lanjut ia menyatakan "semoea peladjaran itoe sekarang [jang diboeat pemerentah] sekarang terisi dengan ratjoen kemodalan jang bisa menjempitkan angen-angen boeroeh." Dalam tulisannya yang lain, Hikajat Kadiroen, "bacaan liar" ia tegaskan untuk keperluan menentang "banjak soerat-soerat kabar (di Hindia) boekan kepoenjaan rajat, jang selaloe memoeat kabar-kabar Bohong boeat Meroesak gerakannja rajat, boeat Mengadjak pada Pembatjanja soepaja mereka bentji pada pergerakan itoe, teroetama pada pemoeka-pemoekanja." Sementara itu Marco Kartodikromo dalam tulisannya Babad Tanah Djawa, lebih berkeinginan untuk menjernihkan makna babad itu sendiri, yang telah diselewengkan oleh para pujangga pribumi sendiri dan dipertahankan oleh para ilmuwan Belanda, sebagaimana ia tegaskan: Babad itoe soeatoe pengetahoean (wetenschap), tetapi tidak sedikit toekang-toekang babad jang sama memalsoe karangannja. Perkara ini ternjata seperti kata orang Tsjeccho Slowak: "Diantara orang-orang djoeroe babad, ada djoega memalsoe babad jang dibikinnja. Babad mana jang seharoesnja ditoelis dengen sebetoel-betoelnja apa jang telah terdjadi''. Begitoe djoega orang bangsa Turkeje ada pepatah: ,,jang menoelis atau membikin babad itoe boekan tempat tinta''. 141)Tujuan Marco menulis Babad Tanah Djawa adalah untuk menyusun sebuah buku sejarah Hindia Belanda yang pembacanya kaoem kromo, agar mereka mereka mengetahui tahap-tahap perkembangan sejarah masyarakatnya. Titik Berangkat Marco dalam menyusun Babab Tanah Djawa, ini berhubungan dengan konflik ia dengan Semaoen dan Darsono. Konflik ini dimulai ketika Darsono menyerang Tjokroaminoto yang menggelapkan uang kas S.I. untuk kepentingan pribadi dan menurut Marco ini bukan tindakan yang ksatria dan pada 11 September 1920 Marco secara resmi mengundurkan diri dari arena pergerakan selama 2-3 tahun. Persoalan ini, selain berhubungan dengan konflik, juga berhubungan dengan Marco yang dianggap tidak dapat mengurus dengan baik surat kabar Swara Tamtomo yang merupakan organ Serikat Buruh Kehutanan. Dalam surat pengundurannya Marco menegaskan: Saja telah berkata hendak mengoendoerkan diri, sebab: ,,saja tidak banjak teman jang sehati, setoedjoean, semaksoed enz, enz.'' Perkataan, saja itoe banjak saudara kita jang salah mengerti dan dia berkata: ,,kamoe jang meninggalkan saja!'' Itoe perkataan soedah tentoe saja djawab: "Kamoe jang meninggalkan saja!'' Mana jang betoel, itoelah hanja Toehan jang mengetahoei, dan achirnja tentoe akan berboekti, siapa jang salah.! ... Penoetoep ini toelisan, saja minta poedji doa dari sekalian saudara kaoem pergerakan jang semaksoed dan setoedjoean dengan saja. Moedah-moedahan saja diberi kekoeatan oleh Toehan, karena saja hendak mentjoba mengasingkan diri dari kalangan pergerakan. Ingatlah, perkataan diatas: ,,Ada waktoenja datang, dan djoega: Ada waktoenja poelang!'' Itoelah memang soedah djadi wetnja doenia jang tidak bersih ini. 142)Dari pernyataan Marco "keluar dari pergerakan," tidak dapat diterjemahkan sebagai orang yang tidak bertanggung Jawab terhadap pergerakan. Sebagaimana ia tenegaskan lebih gamblang,"Boeat djalan jang gampang sendiri atas pemandangan saja membersihkan diri, keloear dari kalangan doenia jang kotor itoe." Pernyataannya ini merupakan rumusan Marco yang ingin menyatakan bahwa dia sudah semakin sulit untuk membaca situasi pergerakan. Dan jalan keluarnya ia harus belajar kembali untuk mengusut kekeliruan dalam pergerakan. Untuk itu selama 3 tahun ia mempelajari dan membaca buku-buku yang lebih menunjang memperbaiki kondisi pergerakan. Setelah itu Marco kembali ke dalam arena pergerakan--dan memberikan kontribusi untuk "pemberontakan 1926-27." Sehingga dengan sangat tepat Ben Anderson, menyatakan bahwa Marco merupakan salah seorang pemimpin pergerakan yang telah dapat membayangkan masa depan tanah airnya. Penyusunan Babad Tanah Djawi ini telah direncanakan oleh Marco sejak tahun 1921, sebagaimana ia tegaskan pada kata Pendahoeloean Babad Tanah Djawa: "Kami telah ada tjita-tjita aken membikin boekoe Babad Tanah Djawa, teroetama Sarekat Islam, seperti yang telah kami lahirkan di soerat-soerat kabar waktoe tahoen 1921. Dari Sebab roepa-roepa halangan jang telah menjerang diri kami, terpaksa pekerdjaan itoe kami toenda sampe ada waktoe jang baik." Yang dimaksud oleh Marco dengan membikin boekoe Babad Tanah Djawa yang dimuat tahun 1921 adalah tulisan seorang yang menggunakan nama anonim O. Soerapati, yang menegaskan: Boekoe Tjerita Babad tanah Djawa, banjak djin-djin dan setan-setan jang menggangoe kedatangan orang Toerkie, sehingga sejumlah orang Toerkie jang ingin bertetap di tanah Djawa kembali belajar ke negerinja. Dan kemoedian Sri Sultan seroekan lagi ke pada patih oentoek soepaja taroek lagi orang Kelling jang disertai dengan pendita Sech Aboebakar oentoek mengoesir djin dan setan. Selandjoetnja orang Kelling selamat dan bertjoetjoek tanam dan beroemah tangga di tanah Djawa sini. Lantas anak beranak sampe sekarang, mendjadi kita orang Djawa ini toeronnja orang Kelling. Srenta saja rasa-rasakan jang dalam-dalam maka pantas sadja kita orang Djawa ini selamanja melarat sendiri, dan rendah sendiri deradjatnja karena kita toeroennja orang rendah. Pindahnja orang Kelling ka tanah Djawa, sama sadja dengan pindahnja orang Djawa ke Deli lantaran koerang makan lantas masoek Contract koeli ke Deli; djadi selamanja boeat isap-isapan dan enggoek-enggoekkan sadja. 143)Dengan menulis Babad Tanah Djawa, Marco bermaksud menyusun sebuah buku sejarah Hindia-Belanda secara ilmiah. Dan karyanya ini, menurut saya, merupakan hasil studi Marco yang paling serius, sebab ia menggunakan referensi hasil penelitian dari Professor Veth dan lainnya. Babad Tanah Djawa dibagi dalam beberapa babak yang ditata secara sistematis. Bagian pertama tentang "Asalnja Nama Djawa," bagian keduanya, tentang "Tanah Djawa Dalem Djaman Hindoe." Selanjutnya bagian ketiganya mengenai "Igama Hindoe Ditanah Djawa," dan kemudian dilanjutkan tentang "Djatoehnja Keradjaan Modjopahit," selanjutnya "Orang-Orang Portugal diTanah Djawa dan Keradjaan Demak". Selanjutnya "Bantam, Jacatra dan Compagnie," yang kesemua ditulis pada tahun 1924 di Salatiga.144) Pendapat Marco yang tertuang dalam Babad Tanah Djawa, sebagai sebuah karya yang telah membenam ke dalam benak masyarakat Jawa sekarang, digambarkan Marco sebagai kekalahan kebudayaam Jawa terhadap kolonialisme Barat dan ini diperkuat dengan pendidikan kolonial di Hindia. Sehingga berdasarkan penilaiannya, Marco memberi makna Babad sebagai "soeatoe pengetahoean (wetenschap)." Dan untuk itu "babad haroes ditoelis berdasarkan fakta-fakta dan pengetahoean jang tjoekoep." Sebagaimana ia memberikan contoh, bahwa sejarah Jawa pertamakali disusun oleh Raffles, yang juga menggunakan bahan dari para raja-raja Jawa, dan kemudian diperluas dan dibakukan oleh Bataviasch Genootschap pada tahun 1843. Marco memandang penulis Babad Tanah Jawa sebagai kekalahan kebudayaan Jawa terhadap ekspansi kolonial. Belanda tidak hanya membawa kolonialisme, tetapi juga ilmu orientalis-nya--gagasan kolektif orang Eropa yang mengidentifikasikan dirinya berbeda dengan orang-orang pribumi. Dengan diintrodusirnya Tanam Paksa oleh Van den Bosch, pejabat-pejabat kolonial membutuhkan kerjasama yang erat dengan pembesar-pembesar pribumi, sehingga muncul kebutuhan baru, yakni dibutuhkan lebih banyak orang Belanda yang ahli Jawa, dapat berbahasa Jawa dan dapat mengetahui tentang seluk-beluk kebudayaan Jawa. Yang kemudian didirikan Instituut voor het Javaansche Taal (Lembaga Bahasa Jawa) di Surakarta, yang mendidik ahli-ahli Jawa Belanda untuk mempelajari bahasa Jawa dan melakukakan darmawisata seperti Dieng, Borobudur dan Prambanan untuk melihat tradisi Jawa kuno. Pada tahun 1840-an institusi ini dipindahkan ke Delft dibawah naungan Kerajaan (Koninklijke Academie) yang kemudian dipindahkan kembali ke Leiden dan terkait dengan Universitas Leiden. Tokoh yang membangun landasan lembaga studi Jawa di Netherland adalah, Taco Roorda, yang menjadi bapak pendiri Javanologi Belanda di Universitas Leiden. Di lembaga ini bahasa Jawa Surakarta dan kebudayaannnya dipelajari dan akhirnya dapat dikuasai dengan baik oleh para Javanologi Belanda. Kamus-kamus Jawa-Belanda dan teks tentang tata bahasa Jawa yang disusun berdasarkan Jawa Surakarta dan jenis naskah Jawa dihasilkan didasarkan atas Istana Sunan.145) Kraton Surakarta menjadi standar Jawa, dan Surakarta, khususnya Istana Sunan, disetujui menjadi lambang status kebudayaan Jawa oleh kekuasaan dan Javanologi Belanda. Lebih lanjut, para Javanologi Belanda mempelajari literatuur Jawa Kuno, bahasa Jawa Kuno, dan sejarah Jawa Kuno, yang untuk waktu yang lama telah hilang dan dilupakan oleh orang Jawa sendiri. Para Javanologi Belanda mengubah dan merkonstruksi tradisi Jawa Kuno dan kemudian dikaitkan dengan istana Surakarta. Kerajaan-kerajaan Surakarta--terutama Kasunanan diwajibkan oleh Javanolog Belanda mengklaim sejarah Jawa yang mereka rekonstruksi dan sekaligus Belanda mengklaim untuk legitimasi kebudayaan. Proses legitimasi kebudayaan Surakarta oleh Belanda, bagaimanapun mempunyai sisi lain. Javanologi Belanda, dengan membawa kepentingan mempelajari seluk-beluk Jawa Kuno dan dilengkapi dengan dana, metode, dan Lembaga yang terus-menerus mempelajari tentang Jawa, dengan demikian mereka dapat membeberkan pokok kedangkalan terhadap pemahaman literatuur Jawa dan dengan cara ini pula mereka dapat menaklukkan tradisi Jawa kuno. Untuk itu para Javanolog Belanda "menemukan," "memugar," dan memberi bentuk dan makna untuk masalalu orang Jawa. Jika orang Jawa ingin kembali ke masalampau mereka, merekapun dapat membaca karya-karya penulis Javanologi Belanda dalam bahasa Belanda dan, jika mungkin, melalui latihan Javanologi di Netherland.146) Namun dalam Babad Tanah Jawa-nya, Marco secara eksplisit ingin mengutarakan bahwa raja-raja Jawa terlalu kompromi dan tak kenal batas. Hal ini dikarenakan bangsa ini mempunyai watak selalu mencari-cari kesamaan, keselarasan, melupakan perbedaan untuk menghindari bentrokan sosial. Akhirnya dalam perkembangan selanjutnya seringkali terjatuh pada satu kompromi ke kompromi lain dan kehilangan prinsip-prinsipnya. Watak raja-raja Jawa lebih suka penyesuaiaan daripada cekcok urusan prinsip. Karakter kehilangan prinsip pada raja-raja Jawa dapat terlihat dari penggambaran Marco tentang perjanjian kontrak perdagangan antara Belanda dan raja Jakatra yang ditandangani oleh pada tahun 1610: Radja memberi kemerdikaan kepada orang-orang Belanda boeat berdagang di Jakatra dan dia orang memberi bea sepantasnja; memberiken sebedang tanah dengan harga 1200 realen lebarnja 50 depa pesagi jang terletak di kampoeng Tjina; mengizidkan boeat membikin roemah batoe disitoe oentoek tempat tinggal dan menjimpen barang-barangnja, membantoe kalau orang-orang diserang moesoeh. 147)Dengan kekalahan budaya berarti bangsa Jawa juga kalah dalam bidang lainnya seperti politik, ekonomi dan ilmu pengetahuan dan mereka taat dengan watak komprominya, yang mana Marco dalam sajaknya yang lain menyebut bangsa Belanda adalah bangsa Badjak Laoet: Si badjak Laoet tinggal tertawa, Karena dia bisa memerentahnja, Orang Boemi jang djadi Kepala, Djoega di pandang seperti Radja, Si Badjak menanam pengaroehnja, Pada orang jang dibawahkannja, Agar dia gampang di pidjatnja, Dan merampasi harta bendanja. 148)Sajaknya yang ditulis tahun 1918 ini, bagi telinga pejabat kolonial Belanda amatlah panas, dan tulisan ini dianggap oleh para pejabat Belanda sebagai penghasut untuk menggerakkan Ra'jat Kromo. Dan sekaligus menolak bahwa bangsa Jawa yang menurut para Javanolog Belanda adalah lebih rendah dari bangsa kulit putih. Sebagaimana juga Darsono menulis dalam Soeara Ra'jat, bahwa "peradaban Jawa Kuno seperti misalnya kisah Candi Borobudur, sebenarnya telah direkonstruksi oleh raja-raja Jawa dan para ilmuwan Belanda."149) Dalam novel Matahariah-nya Marco (yang lebih dikenal sebagai Novel Kromo Bergerak) ia secara tegas mengemukakan pendapatnya bagaimana caranya untuk keluar dari kekalahan budaya ini: Sekarang saja soedah sama bermoefakat akan membikin perkoempoelan jang kita kasih nama: KROMO BERGERAK, maksoednja perkoempoelan, berdaja oepaja bangsa kita anak Hindia bisa roekoen menjadi satoe hati, soepaja kita tidak selaloe dperas oleh bangsa-bangsa boeas. Lagi poela kita anak Hindia bisa roekoen djadi satoe, disitoelah waktoenja kita bisa mengilangi lakoe sawenang-wenang. Sekarang saja soedah mendjadi orang particulier soedah tentoe sadja saja akan beroesaha keras soepaja kita anak Hindia bisa naik deradjatnja seperti bangsa Europa jang ada ditanah kita. Saudara-saudara tahoe sendiri, bahwa kita anak Hindia selaloe dihina oleh bangsa Europa jang ada sama disini, sja kira ini perkara pemerintah tentoe soedah mengetahoei, tetapi dia poerak-poerak tidak mengerti, karena itoelah memang boeat menaikkan kehormatannja bangsa itoe....150)Hampir dalam setiap kesempatan Marco terus menulis bagaimana menaikkan derajat bangsa Jawa yang telah dikalahkan oleh bangsa penjajah. Dalam sjair Sama rasa dan Sama rata, ia dengan sinisnya mengejek keangguhan penguasa kolonial di Hindia Belanda dan menyindir inferioritas raja-raja Jawa, "Ejang Djendral! Bopo Resident! Prestige toeroen! Prestige Toeroen! Prestige Toeroen!!! Kamoe orang toeroen atau kita naik!! Kalau orang pernah ada di Solo tentoe bisa mengerti maksoednja toelisan saja jang terseboet diatas itoe - jaitoe bila HINGKANG SINOEHOEN (Kandjeng Soesoehoenan Solo) menjeboet atau kirim soerat kepada Gouveneuur Generaal memakai seseboetan EJANG (embah, Jav) groot vader; kalau kepada Resident Bopo (Papah), vader."151) Makna sebutan Ejang untuk Gubernur Jenderal dan Bopo untuk Resident disini dapat ditafsirkan sebagai produksi makna, tanda-tanda dan nilai kehidupan sosial untuk melindungi raja-raja Jawa yang lemah dan kompromistis. Atau gagasan yang membantu kekuasaan politik yang dominan dan sekaligus gagasan palsu yang membantu kekuasaan politik yang dominan, yang secara sistematis mendistorsi komunikasi dengan bentuk-bentuk pemikiran yang dimotivasi oleh kepentingan-kepentingan sosial kekuasaan kolonial. Marco dengan lugas memberontak terhadap belenggu kekusaan kolonial, ia secara sadar tidak mengacu pada situasi konkrit bikinan Javanolog Belanda tetapi pada sebuah formasi ideologi (dan yang menyebabkan ia memencongkan sejarah Jawa) yang "situasi konkritnya" secara aktual diproduksi melalui studi sejarah Jawa yang dilandasi dengan membongkar sejarah (babad) yang direkonstruksi oleh para Javanolog Belanda. Dengan Babad Tanah Djawa-nya, Marco telah menciptakan common sense atau common belief yang baru tentang sejarah Jawa yang penuh dengan sejarah penaklukkan atau perang-perang kolonial di Hindia Belanda. Dengan common sense yang baru, Marco menolak untuk menerima kepasifan orang Jawa terhadap sejarahnya, ia secara langsung ingin mengatakan bahwa seseorang yang tidak mempunyai daya kritis dan konsepsi yang koherent terhadap dunia tidak dapat memahami kesadaran dan sejarahnya dan sekaligus tidak mengetahui dirinya merupakan produk dari proses sejarah yang panjang. Melalui pemahaman sejarah Hindia yang cukup baik, Marco dapat merumuskan historiographi Hindia Belanda untuk meng-counter historiographi yang ditulis oleh para orientalis Eropa tentang Jawa. Marco dengan tepat merumuskan kapan dan bagaimana kekuasaan kolonial Belanda melebarkan sayapnya: Pada tanggal 20 Maart 1602 Vereenigde Oost-Indische Compagnie (V.O.C.) itoe diberi idzin (oetradi) oleh negeri (Algemeene Staten) boeat dibilang permoelaan berdirinya peperentahan Belanda di Hindia. Itoe waktoe jang diperloeken hanja perdagangan dan membikin beberapa kantor-kantor dagang dimana-mana tempat. Tetapi moelai itoe waktoe ada tanda-tanda djoega boeat melebarkan peperentahan Belanda aken menakloekken Hindia, dan maksoed itoe poen bisa kesampean, jang sekarang dimana Nederlandsch-Indie; jaitoe seloeroeh tanah Djawa dan 3/4 (tiga perempat) dari poelau-poelau Hindia. 152)Babad Tanah Djawa ditulis Marco pada tahun 1924, dimana zaman pergerakan dalam keadaan yang memuncak, terpecah-pecah dan penuh provokasi baik dari pihak negara kolonial sendiri maupun dari kalangan pergerakan sendiri. Dan untuk itu perlu untuk merombak sejarah Hindia Belanda versi kolonialisme dengan merekonstruksi sejarah Indonesia berdasarkan padangan nasionalis--sebagaimana Marco menamakan jurnal Hidoep karena: "HIDOEP'', tidak lain soepaja jang merasa ''hidoep" kita sedjati, jang gilang goemilang dan soetji, tidak tertjampoer dengen pikiran jang kedji." Dengan Hidoep dapat dimaksudkan sebagai menjalakan pengetahuan kepada kaum kromo karena pergerakan membutuhkan pendidikan massa. Dengan perkataan lain "literatuur socialisme" untuk menghindari kekuatan massa menjadi tidak terorganisir (disorganizes), apa yang dikatakan Marco "tidak tertjampoer dengan pikiran jang kedji" (anarkisme). Meskipun Babad Tanah Jawa direncanakan akan ditulis hingga periode pergerakan, tetapi karena Marco sendiri telah kembali aktif ke panggung pergerakan, maka karya itu hanya sampai periode VOC, namun demikian ia dalam membangun argumentasinya tidak berangkat dari definisi-definisi tentang sejarah kebudayaan Jawa, tetapi sebaliknya ia bertitik tolak dari fakta-fakta bahwa dengan masuknya kolonialisme maka kebudayaan Jawa mengalami kekalahan dan taat dengan kompromi-kompromi. Babad Tanah Jawa, boleh dikatakan merupakan sebuah karya sejarah kebudayaan politik.Berbeda dengan Hikajat Kadiroen atau Rasa Mardika (Hikajat Soedjatmo) keduanya merupakan novel politik, yang menggambarkan suasana pergerakan. A. Teeuw secara berlebihan menegaskan bahwa "Dari ringkasan cerita serta petikan-petikan yang dikemukakan dalam buku Bakri Siregar, maka saya memperoleh kesan bahwa roman Mas Marco rapat benar persamaannja dengan Hikajat Kadiroen Semaun pada segala seginya." Seharusnya A. Teeuw sebagai seorang intelektual harus membaca kedua novel tersebut, dari segi alur cerita memang sama tetapi tidak pada keseluruhan. Apalagi dengan mengikuti klise lama bahwa Rasa Mardika dikarang oleh Marco, padahal Marco pada tahun 1924 sedang sibuk-sibuknya di Solo membangun Sarekat Ra'jat. Sekali lagi A. Teeuw melupakan konteks sejarah pergerakan, dimana seringkali diselenggarakan Rapat Umum, perdebatan, pemogokan buruh dan menolak tradisi sembah-jongkok. Penegasan A.Teeuw tidak berbeda jauh dengan dengan pernyataan Henk Maeir yang meninjau Hikajat Kadiroen: Apakah _Hikayat Kadiroen_ adalah buku yang bermanfaat bagi pembaca Barat yang modern? Sudah pasti tidak kalau diartikan sebagaimana dilakukan Semaoen: campuran yang khas antara unsur-unsur Islam, Komunis dan Jawa tidak dapat dijadikan teladan bagi kita dan sudah pasti tidak akan mendorong kita beraksi. 153)Di sini penegasan Maier juga melupakan konteks pergerakan dan masih terpengaruh dengan konsep sejarah ortodoks yang diajukan oleh Peter Blumberger yang milah-milah Ideologi Islam, Nasionalisme dan Komunisme, sehingga seluruh individu organisasi yang bergerak dipahami sebagai pelopor. Dan dengan Maier memahami Hikajat Kadiroen semacam ini, maka ia telah mereduksi makna "pergerakan" dimana bacaan menjadi unsur penting bagi penggerak dan pengikat gerakan massa dan konteks pergerakan yang memerlukan rapat umum, debat, novel dan penghapusan tradisi Jawa yang telah usang. Sebagaimana dalam Hikajat Kadiroen ditegaskan: Sampai disini adanja debat-debat jang hanja diambil maksoednja sadja dalam ini verslag. Karena tidak ada jang debat lagi, maka President laloe berdiri dan menerangkan bahwa toean Tjitro maoe mendjawab semoea toean toean jang soedah bitjara. Balasan debat: Toean Tjitro kata poela ,,Saudara-saudara, vergadering jang terhormat! Soenggoehlah saja ada senang hati, bahwa ada lima toean yang bantah-berbatah ini maka perkara kita laloe bisa tambah terang lagi baiknja, jaitoe maksoednja P.K. 154)Dengan melakukan perdebatan akan melahirkan sebuah pendidikan kolektif untuk massa atau kaum kromo, atau untuk menegakkan demokrasi bagi gerak massa dan menggeser keseimbangan kekuatan dalam mengarahkan kekuatan progresif, yang dalam jangka panjang bertujuan untuk kemenangan sosialisme. Sementara itu dalam Rasa Mardika yang ditulis oleh Soemantri salah seorang propagandis VSTP yang menolak adat-adat lama seperti sembah-jongkok yang dianggapnya sudah tidak dapat diterima pada zaman modern ini: Seketika itoe djoega maka air moeka Soedjamoe poetjet, djalan darahnja mendjadi deres, detik djantoengnja mendjadi keras, hatinja berdebar-debar seolah-olah orang ketakoetan aken barang sesoeatoe jang ada dalam pikirannja. Dalem hatinja berpikirlah ia: Magang? apakah saja mesti berdjongkok-djongkok sambil merangkak-rangkak sebagai katak sakedar mentjari moeka manis? Benar djoegalah kata orang, bahwa adat jang demikian itoe sekarang soedah ta' patoet didjalanken. 155)Penolakan Soemantri terhadap aturan adat lama yang dijelmakan melalui sembah-jongkok, memberitahukan kepada kaum kromo bahwa pada jaman modern keadaan telah berubah menjadi sama rendah-sama tinggi bukan dalam pengertian "penyamakan ratakan kaoem setan uang dengan kaoem kromo," melainkan dengan "memaksoedkan democrasie." Masing-masing orang yang datang ke "vergadering boleh berbantah-bantahan."156) Istilah "bacaan liar" merupakan pembahasan dari Balai Poestaka. Sebaliknya bagi pemimpin pergerakan mereka mendiskusikannya sebagai "literatuur socialism"--sebagaimana telah disinggung pada bagian pengantar tulisan ini. "Literatuur socialism" menjelang meletusnya "pemberontakan" produksi semakin meningkat "menoeroet statistiek maka dalam tahoen 1917 ada disiarkan 8-kitab, tahoen 1918 ada 15 kitab, tahoen 1919 ada 26 kitab, tahoen 1920 ada 32 kitab dan dari tahoen 1921 hingga tiga kwartal dalam tahoen 1925 ada 70 kitab."157) Meskipun jumlah produksi "litteratuur Socialitisch" lebih rendah ketimbang produksi bacaan BP, namun dibandingkan pendistribusiannya lebih tinggi "litteratuur sosialistich." Bagaimana prosesnya hingga demikian? Hal ini merupa akibat konsep "orientalisme" BP yang tetap mejalankan politik bahasa dari kekuasaan politik kolonial dengan tidak menginginkan adanya bahasa persatuan, dan lebih dititik-beratkan pada usaha mengobarkan perasaan kesukuan, dengan cara menghidupkan sentimen bahasa daerah secara tidak wajar dan mempertentangkannya dengan bahasa Melayu Pasar, disamping usaha untuk menjadikan bahasa Belanda menjadi bahasa pengantar di Indonesia. Strategi BP ini sangat erat hubungannya dengan hegemoni kolonial, sebagaimana Dr. G.J. Nieuwenhuis dalam kesimpulan bukunya Het Nederlands in Indie (1925): Kalau lambat laun semiliun bangsa Hindia jang terpeladjar pandai berbitjara dan mengerti bahasa kita (hal itu baru 2% dari segala anak negeri), maka buku Belanda, pekerja Belanda, pikiran Belanda akan tetap mendjalankan pengaruhnja dan barang-barang Belanda akan tetap laku selama tanah djadjahan ini masih lama lagi akan djadi negeri Belanda. 158)Sementara itu dalam zaman bergerak buku yang dicetak dan didistribusikan oleh penerbit "litteratuur Socialistisch" lebih mengenai sasarannya, yakni kaoem kromo dan selain itu dengan harga yang murah dapat dijangkau. Para penerbit "litteratuur socialistich" tetap mempertahankan bahasa Melayu-Pasar yang menjadi bahasa kaum buruh. Di tambah pula produksi "litteratuur socialitisch" terus memegang teguh untuk mengajak kaoem kromo untuk mengadakan perubahan sosial demi kemerdekaan kaoem kromo. Sebagaimana Marco menulis untuk pendahoeloean Soerat teboeka pada Kaoem Intelect Atau Kaoem Terpeladjar karangan R.M. Soetjipto: Kita manoesia jang sama hidoep di dalem djaman sekarang ini moestail sekali kalau bisa merasa seneng di dalam hati, walaupoen di dalem golongan fehak jang mana. Kalau kita mendenger dari keloeh kesahnja, kerna marika itoe takoet bila barang jang dimakannja itoe tidak bisa langsoeng di dapetnja, jaitoe terboekti, tjonto-tjonto di kanan kirinja jang dihinggapi bahaja kekoerangan itoe. Bila kita tilik ada digolongannja kapitalisten, jalah kaoem menoempoek-noempok harta doenia disitoe poen ada tanda-tanda ketakoetan itoe, kalau-kalau milik jang telah diakoeinja itoe kepoenjaan diri sendiri itoe bisa terlepas dari genggamannja, kerna terdampar oleh gelombang keriboetan manoesia jang sama kekoerangan makan, dan tidak ada lain lagi ketjoeali minta kepada orang-orang jang mempoenjai milik lebih dari mestinja, soedah tentoe sadja permintaan itoe djarang kalau memaksa. 159)Penegasan Marco ini sebenarnya untuk mengajak kaoem kromo untuk merubah hidupnya dengan cara merebut atau memperjuangkan hak-hak kaoem kromo, tidak dengan cara meminta terhadap kaum kapitalis, tetapi merebutnya dari kekuasaan keditaktoran kapitalisme. Selain itu penegasan ini mencerminkan laju perubahan sosial pada zaman pergerakan, oleh sebab itu orang yang terlibat dalam pergerakan satu-sama lain untuk menguji kembali secara kritis posisinya dalam dunia pergerakan dan bertanggung-jawab terhadap massa yang diajak untuk bergerak. Dengan kata lain, dalam keadaan yang sulit ini penulis bacaan untuk kaoem kromo menjadi sadar bahwa sifat nyata dari produksi bacaannya menitik beratkan pada aspek realitas, sehingga commitment-nya tidak dapat terpisahkan dari bacaan yang diproduksinya. Sasaran dari tulisan R.M. Soetjipto adalah untuk mengajak kaum terpelajar ikut serta dalam pergerakan dan saling bahu membahu dengan kaum buruh dan tani: Pada kaoem boeroeh dan kaoem tani sekarang dikasih segala kekoeasaan dan segala keoentoengan, agar soepaja mereka bisa menghantjoerkan kaoem kapital. Pada kaoem boeroeh dan kaoem tani dikasih makanan jang hoetama dan jang mengoeatkan badan, soepaja badannja mendjadi koeat-koeat. Pada kaoem boeroeh dan kaoem tani dikasih roemah jang padang dan sehat. Lagi pada kaoem boeroeh dan tani dikasih boedi jang soetji, kepandaian dan pengetahoean, soepaja darahnja kemanoesiaan bisa berdjalan di seloeroeh toeboehnja dan bisa mendatengken kultuur jang socialistisch, jang baroe dan jang tinggi. Sehingga dengan jelas Soetjipto merumuskan bahwa persekutuan antara kaum terpelajar dengan kaum buruh dan tani akan mendatangkan apa yang ia sebut dengan "kultuur socialistisch." Pernyataan ini menekankan pada proses sosial--yang menentang kediktaktoran kaum modal, sebagaimana ia nyatakan "Hai kaoem kapital atau toean-toean bourgeois lepaskanlah kapitalmoe seperti orang pintjang jang tidak maoe memakai tongkatnja lagi." Kalau ditilik secara ideologis penjabaran Soetjipto berusaha menyadarkan kaum buruh dan tani bahwa dalam kekuasaan kolonial terdapat konflik antara modal dan kerja--antara yang dipertuan dan yang dipekerjakan. Oleh karena itu untuk mendatangkan "kultuur socialistich" diperlukan kemajuan kebudayaan yang tergantung atas kemajuan kondisi material, terutama organisasi sosial, sehingga dibutuhkan interaksi konstan antara kebudayaan dan organisasi sosial. Dengan "kultuur socialistich," maka "ia membikin pemeliharaan baroe jang berkehendak akan memperbaiki nasibnja badan dan nasibnja djiwa pemboeroehan dan lagi menghilangkan perbedaan klas-klas." Dari judul tulisannya Soetjipto--Soerat Terboeka kepada kaoem intellect, ia bermaksud mengkritik kaum terpelajar yang menjadi alat kaum modal untuk menunjang kekuasaannya: Akan tetapi pada moesim perang doenia nasib kaoem sosialist itoe laloe ganti, sebab mereka soedah tidak diperdoeli oleh kaoem dipertoean, lantaran perboeatan kaoem letterkundig (ahli-ahli bahasa) jang termashoer dan jang tidak masoek dalem kalangan kaoem sosialist itoe. Djadi persahabatan antara kaoem sosialist dan kaoem koeasa soedah tidak tebel lagi, sebab kaoem koeasa itoe soedah dapat moeter-moeter otaknja kaoem letterkundig, sampe ia djadi perkakasnja boeat keperloeannja sendiri. Semoea djoeroe ngarang (schrijvers), misalnja Anatole France, Verhaeren, Wells, Bernard Shaw dan lain-lain jang soedah termashoer di seloeroeh doenia soedah mendjadi pemboedjoeknja kaoem koeasa itoe.Tulisan yang dikarang tahun 1925 dan dimuat di majalah Hidoep serta dicetak oleh Drukkerij VSTP Semarang, merupakan peringatan akan semakin didaktornya kekuasaan kolonial, terutama masalah kemiskinan yang akan meledak menjadi kekerasan, "Awas kaoem terpeladjar, pada masa ini gelombang kemiskinan soedah berdengoeng-dengoeng aken mendampar ke tepi laoet keriboetan, kalau bahaja jang aken datang ini tidak lekas kamoe tolak dengen akalmoe jang sehat, soedah tentoe achirnja kamoe orang akan merasai dorongan jang amat haibat itoe; kalau tidak kamoe sendiri tentoe anak atau tjoetjoemoe jang aken merasai kekoeatan gelombang itoe." Kalimat-kalimat ini dikutip oleh Soetjipto dari surat terbuka Henriete Rolland Holst kepada Maxim Gorky waktu menjelang meletusnya revolusi Oktober di Rusia.160) Gagagasan inilah yang mendorong Soetjipto untuk mengkritik kaum terpelajar, sedangkan alur cerita yang ia konstruksi diperoleh dari pembacaannya tentang revolusi sosialis di Russia--terutama bagaimana bacaan yang diproduksi oleh kaum terpelajar dengan realitasnya mempunyai komitmen sosial. Soerat terboeka kepada kaoem terpeladjar menjabarkan sosialisme adalah masyarakat masadepan untuk kaum buruh dan tani, dan kaoem terpeladjar harus mempunyai kommitment untuk tujuan tersebut: "Apa lagi kalau kamoe bisa memimpin rajat jang ada di goea koeno ini ke istana jang padang jalah goea istana Sowjetregeering, itoelah jang nanti kamoe diberi kesoargaan doenia oleh rajat." Jelas masyarakat yang dituju adalah sosialisme--sebuah masyarakat yang bertujuan menyingkirkan pemilikan pribadi yang didominasi oleh klas tertentu, tetapi membangun kondisi-kondisi yang mana seluruh masyarakat berpatisipasi secara aktif dalam mengurus dan mengembangkan sumber-sumber produktifitas mereka, termasuk menggunakan tenaga-kerja yang mereka miliki. Sementara itu tulisan Soetjipto yang lain yang berjudul Kehilangan Ketjintaan Kita: Rosa Luxemburg Dan Karl Liebnecht, yang ditulis dalam rangka memperingati meninggalnya kedua tokoh pergerakan Jerman tersebut. Tulisan ini menjadi penting, karena memperbandingkan pergerakan buruh di Jerman dengan pergerakan di di Hindia: Sekonjong-konjong kedoea orang itoe mati lantaran perkelaian ketjil sadja, perkelaian mana jang didapeti oleh kaoem djoemlah sedikit, tapi moerka, hendak menakloekkan kaoem djoemlah banjak jang mengalatkan ilmoenja jang djahat jalah pada kalanja marhoem kawan-kawan itoe mengasih ilmoenja pada kaoem Blanquist. Maka sekonjong-konjong kaoem idjadjil menjerangnja dengen sendjata seperti jang soedah kedjadian disini, mitsalnja di Bandoeng, di Sidomoeljo (res. Madioen) dan lain-lain. Yang dimaksud oleh "kaoem idjadjil" di sini adalah Serikat Hidjo yang mendapatkan dana dari Suikersyndikaat untuk memprovokasi pergerakan, agar dengan demikian pergerakan dapat meningkatkan suhunya untuk melakukan pemogokan-pemogokan buruh dan yang pada akhirnya melancarkan "pemberontakan." Selain itu Serikat Hidjo tidak hanya melakukan gerakan teror, tetapi juga berupaya memberikan uang sogok kepada lid-lid Sarekat Ra'jat agar mereka dapat ditarik menjadi anggota Serikat Hidjo--uang yang ditawarkan sebesar f. 750 sebulannya.161) Sedangkan yang dimaksud dengan kaoem Blanquist adalah seorang tokoh konspirasional pada revolusi 1848 di Eropa. Di sini Soetjipto mencoba memunculkan kembali kaoem Blanquist yang untuk pada masa pergerakan di Jerman gagasan Kaoem Blanquist dipergunakan kembali oleh penguasa Jerman saat itu telah merasa takut dengan gerakan Liga Spartakus yang dipimpin oleh Rosa dan Liebknecht. Penguasa Jerman memakai Ebert-Scheidmann--seorang tokoh yang tidak mempercayai kekuatan pergerakan buruh untuk melakukan perubahan sosial, tetapi melalui komplotan segelintir intelektual "...sekonjong-konjong Spartakus itu lantas terdjoen di kalangan rajat dan mendjadi katjau dari kaoem Ebert-Scheidmann, jalah kaoem regeerders atau kaoem dipertoean." Tulisan Soetjipto ini sangat dipengaruhi oleh situasi pergerakan yang semakin memanas, terutama rapat-rapat umum yang dilakukan PKI pada tahun 1924-25 senantiasa dituduh oleh negara kolonial telah banyak membuat kerusuhan, "Openbare-vergadering P.K.I afd. Semarang pada tanggal 3 februari 1924 dihadiri kira-kira 4000. Mendengar pembitjaraan-pembitjaraan tentang tjaranja fihak politie toean Soesatjito dan spion Hardjosoemarto mengoeroes orang-orang jang terdakwa perkara bom, mengetahoei, bahwa apabila soenggoeh benar hal itoe terdjadi demikian, adalah akan mendjeroemoeskan orang jang tidak bersalah."162) Pemberitaan ini dengan jelas menunjukkan bahwa negara kolonial mulai melakukan aksi-aksi provokasi, terutama setelah kegelisahan Suikersyndikaat melihat perkembangan PKI yang terus menerus memperbanyak organ-organ pemersatunya (suratkabar, jurnal, literatur)163) termasuk juga pendirian Serikat Buruh Gula pada tahun 1924 untuk memaksa negara kolonial membubarkan PKI beserta seluruh pendukungnya dengan cara apapun.164) Sebagaimana juga Soetjipto memperingatkan kepada kaum pergerakan dengan adanya tindakan provokasi dari kaum modal: Maka kaoem kommunist jang tidak sedar aken ketjoerangannja kaoem kapital, masih teroes-meneroes menamen keberanian dan menjokong perboeatannja kaoem boeroeh dengen djalan membikin pemogokan-pemogokan dimana-mana tempat berserta mendengerken risanan-risanan dan ia masih kerdja teroes aken mempersatoeken segala partij oentoek menentang kekoeasaan, teroetama menentang kaoem kapital dan memoekatken ditaktornja (jang terkoeasa pada moesim perang) kaoem proletar. Perbandingan yang dilakukan oleh Soetjipto antara keadaan pergerakan di Hindia dan pergerakan di Jerman tidaklah mempunyai perbedaan jauh--kedua pergerakan sama-sama menuju kepada masyarakat yang dicita-citakan--masyarakat sosialisme, dan untuk menuju ke sana banyak rintangan yang harus dilalui. Cita-cita mereka mendapat tekanan keras dari kaum pemilik modal, dan cara kaum modal menekan pergerakan kaum buruh ini dengan cara yang terang-terangan dan juga bisa secara halus. Secara terang-terangan dengan membuat kegaduhan pada saat diadakan rapat umum, seperti yang diberitakan oleh Doenia Merdeka, dimana dua agen polisi yang sebenarnya terlibat dalam mengacaukan rapat umum PKI. Sedangkan secara halus dengan membentuk Sarekat Hidjo untuk mengganggu jalannya pertemuan, rapat umum--dalam rapat umum atau pertemuan partai Sarekat Hidjo memprovokasi dengan pertanyaan-pertanyaan yang tidak dimengerti oleh kaum kromo.165) Sementara itu tulisan lain dari R.M. Soetjipto--Awas, Listrik. Inkwisisi (Fitnahan) Djalan di Indonesia dan dimuat pula di jurnal Hidoep yang nadanya hampir serupa dengan tulisan-tulisan sebelumnya, yakni memperingatkan kaum pergerakan buruh akan ditumpas oleh kaum modal, "Dari itoe rajat Indonesia haroes awas, apa jang aken terdapet kaoem kapital melinjapkan ilmoe kommunist."166) Titik pangkal Soetjipto menulis tulisan ini adalah untuk memperingati kematian Sekretaris kedua dan Voorzitter PKI cabang Ternate pada tahun 1925 yang meninggal di penjara Sanana tanpa mendapat pengurusan yang layak. Selanjutnya Soetjipto mengkaitkannya dengan kekuasaan kolonial yang ditopang oleh kaum modal. Makna dari Inkwisisi itu mempunyai perjalanan sejarah yang panjang--Inkwisisi merupakan punish (penyiksaan) berasal dari Spanyol pada abad ke 13--dimana para padri Katolik mengadakan pengadilan untuk menumpas orang yang menganut agama Kristen. Sementara Soetjipto sendiri memandang Inkwisisi: Inkwisisi itoe jang terkenal djahatnja jaitoe Inkwisisi Spanjol pada tahoen 1484. Adapoen inkwisisi itoe tidak memihak paus, aken tetapi memihak radja. Sebab raja itoe jang djadi pengandjoernja kaoem inkwisisi (Groot Inkwisiteur). Dan raja itoe jang mengadaken Hoogen Raad der Inkwisisi seperti di sini hooge recht hof atau raad van justitie dan lain-lain.Petolnja kaoem inkwisisi jaitoe radja Spanjol jang bernama Thomas de Tooquemada. Dari 100.000 orang ada 9000 orang jang dipoetoes oleh raja itoe dihoekoem bakar (brandstapel) dan dianiaja sampai mati.167)Dengan pembacaan dan penguasaan sejarah Eropanya yang cukup baik Soetjipto dapat merumuskan hukuman dan penyiksaan yang sewenang-wenang dapat diperintahkan oleh kaum modal, dan ia juga dapat merasakan bahwa penyiksaan inkwisisi juga akan menjalar ke Indonesia, tetapi inkwisisi ini tidak dilancarkan kepada golongan agama tertentu, melainkan kepada kaum Komunis di Indonesia. Sebagaimana ia tegas: ...Doeloe kala inkwisisi itoe merintangi ilmoe protestant dan dikerdjaken oleh padri-padri kristen Katholiek. Akan tetapi sekarang ini inkwisisi dikerdjaken oleh hamba-hamba negeri oentoek membinasa ilmoe kommunist. Melainken inkwisisi didjatoehken pada Marhoem kawan Datis, maka kawan-kawan Zainoedin dan H.D.T. Batoeah djoegapoen mesti menderita beban inkwisisi itoe. Adapoen kawan Zainoedin dan H.D.T. Batoeah itoe semoeanja orang Sumatra jang diboeang ke Timoer, seperti kawan Misbach ke Manoekwari di poelau Nieuw Genea. 168)Semangat Soetjipto untuk menguraikan secara panjang lebar tentang hal-ihwal inkwisisi tidak lain ia ingin memberikan pengetahuan kepada kaoem kromo bahwa pergerakan semakin mengarah kedalam kondisi yang membahayakan: "Disini kita mengoeraikan hal inkwisisi itoe, soepaja ra'jat djangan sampai terkedjoet, apabila inkwisisi itoe hendak dilahirkan di Indonesia sini. Sebab kini telah tampaklah awan-awan jang tebal dan tidak lama lagi hoedjan inkwisisi aken datang." Penegasan Soetjipto ini mempunyai argumen yang kuat--bahwa tirani kekuasaan kolonial hanya dapat ditentang dengan pemberontakan (revolt)--dan tentunya pemberontakan yang kalah akan mendapatkan ganjaran penyiksaan dari kekuasaan tirani tersebut. Sejak De Fock memangku jabatan Gubenur Jendral pada tahun 1921, ia banyak melakukan tindakan kekerasan terhadap kaum pergerakan--terutama Spreek dan Persdelicht. Pada tahun 1921 saja untuk seluruh Jawa telah 3638 orang lebih yang dikenakan tahanan dalam preventif dan dan hukuman perkara Spreek dan Persdelicht dan karesudenan tertinggi yang terkena hukuman Spreek dan Persdelicht adalah Surakarta, sebanyak 331 orang yang ditahan dan 134 tidak dibawa ke pengadilan. Sedangkan di tahun 1925 jumlahnya semakin meningkat, untuk seluruh Karesidenan Jawa saja 6118 orang dan untuk luar Jawa--terutama Sumatera 4279 orang.169) Selain itu merosotnya nilai upah dan meningkatnya harga kebutuhan pokok untuk kaum buruh, dan menimbulkan banyak jumlah pemogokan di beberapa jawatan pemerintah dan perusahaan swasta, maka negara kolonial mengeluarkan dan memperkuat art. 161 bis, undang-undang yang tidak hanya dapat melarang pemogokan, tetapi juga dapat membubarkan Sekolah Ra'jat, memberhentikan dan melarang rapat umum, pertemuan--dan bahkan landasan untuk menangkap dan memenjarakan orang yang diperkirakan akan membuat kegaduhan. Dan ditambah pula dengan pecahnya Vakcentrale menjadi dua kubu pada tahun 1921: Kubu pertama, Revolutionair Vakcentrale terdiri dari Vakgroep S.I. Semarang, Wonotamtomo, VSTP, VIPBOW, Havenarbeiderbond Semarang, Typogravenbod Semarang, Chauffersbond Semarang dan Sarekat Pegawai Pelikan Hindia, sedang kubu kedua Vakcentrale yang lama terdiri dari PPPB, PGHB, PFB, Perserikatan Kaoem Tani, Perserikatan Kaoem Boeroeh Oemoem, PGB. Kweekschool Bond, Opium Regie Bond, Credietwezen Bond dan Justitie Bond.170) Situasi semacam inilah yang menimbulkan ketegangan-ketegangan, baik dalam tingkat praktek politik maupun perjuangan ideologi. Ketegangan dan perpecahan ini juga memunculkan sikap politik mencaci-maki yang diperlukan untuk mempertegas perbedaan garis politik masing-masing fraksi dikalangan pergerakan. Namun tidaklah aneh De Fock melakukan tindakan represif terhadap pemimpin pergerakan, karena ia berasal dari partai Anti-Revolutionsry yang setelah PD I beralih ke fasisme yang tidak mentolerir gerakan-gerakan demokratis di Hindia Belanda. Partai anti Revolusioner sangat diinspirasikan oleh kekuasaan Mussolini.171) Namun perpecahan dan kontradiksi-kontradiksi ini mempertegas garis politik yang menentang kapitalisme: Maka setelah geest kapitalisme itoe berhamboeran didoenia, riboetlah Ra'jat mendirikan mendirikan matjam-matjam pergerakan, jang mana ada jang ngoeler..... dan ada jang keras, lebih landjoet adalah adanja itoe semata-mata memikirkan keboetoehannja kaoem satrija wesia, dan ada djoega jang ... menghendaki keselamatan oemoem. Sepandjang pendapat kami, maka gerakan-gerakan jang amat haibat rintangannja itoelah pergerakan Ra'jat jang sedjati... S.I. dan Kominis tidak heran, bahwa S.I. dan P.K.I. banjaklah rintangan-rintangan-nja jang selaloe menampar-nampar, sebab sesoeatoe... jang koeasa dan angkara moerka ... mengertilah soedah, bahwa hak miliknja akan terganggoe. Oleh karena itoe tidaklah poetoes-nja mereka itoe berdaja oepaja, soepaja pergerakan jang sematjam... berhoeboengan dengan itoe timboellah P.E.B. jang amat doer ... P.E.B. saudara-saudara ... O.H. boelan ini jang dikarangkan bekas propagandisnja P.E.B dengan ... sendiri, maka perhimpoenan ... dan seboelan-seboelannja menloearkan ... tidak koerang dari f. 10.000,-, oentoek moebaligh dan kepala moebaligh (...dan propagandisten), goena ongkos perdjalanan berpropaganda ke kampoeng-kampoeng, boeat mendirikan matjam-matjam perhimpoenan: Djamei Hasanah dll. Wai! Rojal betoelkah?172)Sikap politik ini jelas menentang kapitalisme yang mendominasi kesadaran (geest) kaum kromo--untuk membebaskan dari proses dominasi masyarakat burjuis yang mana kekuasaan modal kapitalisme harus dibatasi. Dengan menyatakan Politik Economie Bond (PEB) telah mengeluarkan uang setiap bulannya 10.000 florin untuk propaganda anti komunisme, maka ia sebagai sebuah institusi kolonial sangat berkepentingan untuk mempertahankan ideologi rulling class. Kekuasaan kolonial senantiasa berusaha mempertahankan terus-menerus hubungan dominasi dan subordinasi, dalam bentuk praktek kesadaran yang mengakibatkan penyeragaman (generalized) seluruh proses kehidupan masyarakat kolonial--tidak hanya aktivitas politik dan ekonomi, maupun perwujudan dari aktivitas sosial, tetapi seluruh substansi hubungan dan identitas sebagai masyarakat tertindas. Untuk merombak hubungan yang tidak setara ini diperlukan keberanian menyatakan pikiran dan sikap politik yang dituangkan dalam bentuk tulisan: "Begitoelah pikiran saudara Semaoen. Tetapi tiada sebagai kapiterannja seorang jang fikirannja soedah bobrok dan letjek, hanjalah pintar goena mengisi peroetnja sendiri, pintar menjadi boedak, pintar membesarkan kapitaal kapitaal di Hindia seolah-seolah meroesakkan rajat, pintar menegoeh-negoehkan pemerintahan sekarang ini, menjadi penakoet memberi pelita rajat, enz."173) Tan Boen San salah seorang jurnalis yang memimpin jurnal Tjamboek, setelah "pemberontakan" 1926 mempertanyakan Apa Communisme Bisa Idoep Soeboer di Indonesia?: "Dengan madjoenja Communisme di Indonesia, pemerentah poen tida tinggal diam. Pro dan Contra sekarang djadi bentrokan dengen membawa hasil perwatesan-vergadering dan banjak pemimpin didjebloesken ke dalam boei". Lebih jauh ia mempertanyakan keberadaan kaum komunisme di Indonesia--terutama setelah dikeluarkannya art 153 bis dan ter, "Tapi apa bisa djadi Communisme di Indonesia kalelep betoel-betoel?" Ataukah "Apa bisa djadi Communisme aken ditanem dengen tida bertenaga lagi?"174) Menurut Tan Boen San, kekeliruan PKI adalah dengan tidak membuang unsur-unsur burjuis kecil, dimana massa besar petani ketika diminta untuk menunjang organisasi Partai dengan kontibusi yang minimal mereka masih tidak keberatan, tetapi ketika mereka diharuskan untuk menyumbang keuangan yang lebih besar, mereka akan lari dari organisasi. Selain itu, PKI terlalu berorientasi kepada keberhasilan komunisme di Rusia sebagaimana dikatakan oleh Nene Rundscheu: Toch zou het onjuist zijn den boer anti-communist te noemen Veeleer is hij acommunitsch. Openlijke vijandigheid tegen de Sovjet regeering toont hij niet meer, sedert de stad niet meer gewelddadig in zijn leven in grijpt, geen beslag meer legt op dingen die zijn arbeid heeft voortgebracht, of zelfs op dingen die hij voor zijn productie noodig heeft, en met de betaling in geld van de graanbelasting tevreden is. De pogingen om hem door redeneering voor de Bolsjewistische beginselen te winnen hoort hij met echt boersch lachend wantrouwen aan. 175)(Meskipun demikian, keliru, jika dikatakan kaum tani anti-komunis. Mereka malahan setuju dengan itu. Tanda-tanda permusuhan terhadap pada pemeintah Sovjet tidak mereka tunjukkan lagi, sesudah kota tidak lagi mengganggu lebih jauh penghidupannya, mereka punya hasil pekerjaan dan barang-barang keperluan untuk pekerjaannya tidak dirampas lagi, mereka merasa senang dengan pembayaran uang untuk pajak gandum. Percobaan-percobaan untuk mengambil hatinya dengan pidato-pidato Bolsyewistisch, mereka cuma mendengarkan dan curiga, sebagaimana biasa orang tani berbuat.) Pernyataan Tan Boen San (TBS) sebenarnya mengabaikan semangat jaman, dimana pada waktu itu referensi bacaan dan tindakan kaum pergerakan mau tidak mau dipengaruhi oleh revolusi besar Rusia. Kesimpulan TBS terhadap kegagalan pemberontakan PKI hampir mirip dengan konklusi Adviseur voor Inlandse Zaken--R.A. Kern yang suratnya pada 3 Januari 1925 kepada gubernur jenderal Fock: "Intusschen, zoover is het nog niet en daarom zou de ontbinding van de Sarikat's Rajat op dit oogenblik ontijdig zijn. Gingen de leden van den onderbouw in massa naar de PKI over, dan zouden de gelederen, meende men wel worden versterk maar met klein-burgelijke elementen die PKI met de ziekte der klein-burgerlijheid konden aantasten. Hield men, omgekeerd, aan strenge eischen van toelating tot de PKI vast, dan zouden de leden der Sarikat's Rajat wel eens een prooi kunnen worden van de SI of andere vereeniging met klein-burgelijk program." 176)Sementara itu literatur lainnya yang juga penting sumbangannya untuk pengkondisian jalannya pergerakan untuk menuju suatu masyarakat yang diperjuangkan adalah tulisan seorang jurnalis dan pemimpin redaktur Senopati--Rangsang dengan karyanya Kaoem Merah. Dalam Kaoem Merah, Rangsang mendeskripsikan bagaimana buku atau bacaan untuk kaum pergerakan didistribusikan dari tangan ke tangan tanpa mempergunakan advertensi di suratkabar. Selain itu bagaimana pertentangan antara tradisi lama dan zaman modern juga turut dibahas di dalam tulisan ini.177) Yang menariknya dari tulisan Rangsang ini, memperlihatkan bagaimana buku pegangan kaum pergerakan didiskusikan bersama-sama. Selain itu Rangsang dalam tulisannya ini mengangkat tokoh seorang wanita yang bernama R.A Mi yang berasal dari kalangan bangsawan dan dengan kesadaran yang dibentuk oleh lingkungannya mau berkecimpung diarena pergerakan. Jelas dalam Kaoem Merah buku pegangan kaum pergerakan adalah Manifesto Komunist: Empat orang itoe selaloe membitjaraken perkara pergerakan, jang djadi alesan pembitjaraan itoe jalah isinja boekoe Communistisch Manifest. Boekoe mana jang mengataken bahwa kaoem boeroeh itoe haroes mereboet haknja jang pada sekarang ini ada di tangan kapitalisten. Rame sekali dia orang membitja-raken itoe hal, soepaja dia orang itoe bisa sehaloen sehati, semaksoed. Apakah adinda soedah membatja Communistisch Manifest? tanja Brodjo kepada R. Adjeng Mi jang baroe dateng di sitoe membawa makanan dan wedang boeat mendjamoe tamoenja. Raden Adjeng tertawa sedikit mendengerken perkataan itoe boeat tanda kesoekaannja dan mendjawab: ,,ja''. Kedoea tamoe lainnja merasa heran jang seorang perempoean telah membatjai boekoe pergerakan itoe, soedah tentoe dia mengerti betoel lakoe-lakoenja pergerakan, begitoe pikirannja. 178)Dari sini nampak jelas bahwa ideological formation (termasuk nilai-nilai perlawanannya) yang membentuk keberadan lingkungan kaum pergerakan, dan dengan demikian buku-buku sosialisme yang membentuk kesadaran mereka untuk bergerak dalam pergerakan: "Anoman minta kepadakoe, soepaja saja soeka karang mengarang di soerat kabar, sebab bilangnja dia poen mendjadi pengarangnja soerat-soerat kabar; dan saja disoeroeh mempeladjari boekoe-boekoe socialisme." Dengan membaca buku Manifesto Komunisme kaum pergerakan sangat familiar dengan pengertian-pengertian Parlementer, Kapitalisme, Sosialisme ataupun Nasionalisme dan istilah-istilah ini berasal dari Eropa dan diartikulasikan oleh kaum pergerakan dengan cara yang berbeda seperti di Eropa dan maknanya pun berubah setelah dipergunakan di Indonesia pada masa 1921-1926. Perubahan makna istilah pada masa 1921-1926 merupakan satu critical period, dalam satu periode yang kritis perubahan makna--pertama memperkenalkan pemisahan praktek moral dan aktivitas intelektual dari dorongan bentuk masyarakat yang baru. Sedangkan yang kedua, menawarkan a court of human appeal179) yang terdiri dari pengenalan makna kata, keterikatan, dan perubahan dalam diri mereka sendiri, pertumbuhan tuntutan seluruh cara hidup, tidak hanya sebagai skala integritas, tetapi sebagai cara menginterpretasikan seluruh pengalaman baru kaum pergerakan. Selain itu dalam suatu priode kritis terjadi perbenturan antara cara hidup yang lama dengan yang baru: "Ini waktoe djalannja pergerakan Europa," begitoe Soerapati berkata waktoe dia ditanja oleh tamoenja tentang pergerakan. "Sebab darah keprijajian, darah kehormatan, darah kekajaan misih sama mengalir diseloeroeh anggota badan semoea pemimpin. Kita orang sama tahoe boekan jang diantara bangsa kita misih banjak sekali jang berpikiran rendah."180) Bentrokan cara berfikir yang baru dengan yang lama ini sangat diperlukan untuk mengikis yang lama. Dengan perkataan periode kritis adalah perubahan seluruh hubungan-hubungan sosial produksi yang terdiri dari struktur ekonomi masyarakat--fondasi ril, terutama munculnya hukum dan superstruktur politik yang berkesesuian dengan bentuk-bentuk kesadaran sosial tertentu. Cara produksi dalam kehidupan material yang menentukan karakter umum dari proses kehidupan spritual, sosial dan politik--bukan kesadaran manusia yang menentukan keberadaannya, tetapi sebaliknya, keberadaan sosial mereka yang menentukan kesadaran mereka.181) Dalam Kaoem Merah dengan tegas perbenturan antara cara hidup yang baru dan yang lama dipaparkan: Menoeroet keadaan doenia pada ini wektoe, seharoesnjalah kita kaoem perampoean menoeloeng pakerdjaan kaoem lelaki, jaitoe pakerdjaan menoedjoe keperloean oemoem. Soedah berabad-abad lamanja kita kaoem perampoean boleh dikata tidoer poeles, tidak pernah melihat sinar matahari. Sebab moelai djaman doeloe sampai sekarang kita kaoem perampoean di pandang seperti perhiasan romah tangga, dan mendjadi kepalanja koki. Tetapi boeat ini djaman itoe atoeran haroes dirobah. Boeat kaoem kita perampoean jang memang ada koewadjiban romah tangga dan lelaki boleh melakoeken itoe pakerdjaan, tetapi boeat kaoem perampoean jang tidak mempoenjai itoe koewadjiban, haroes sekali menoeloeng pakerdjaan kaoem lelaki jang menoedjoe kegoenaan oemoem. Kita tahoe ada banjak orang perempoean jang memilih doedoek diem sambil makan angin, maski perampoean jang terpeladjar djoega, ada jang soeka melakoekan itoe tabeat. Sekarang kita kira soedah waktoenja kita orang toeroet bergerak bersama-sama dengen soedara kita kaoem lelaki. Kita tahoe djoega, bangsa kaoem kolot tentoe mengsem mendenger perkataan kita ini. Baiklah kaoem jang tidak menoedjoei itoe kita sisihkan sadja.182)Rangsang dengan mengungkapkan pergulatan cara hidup yang baru dn yang lama, ia secara langsung telah meliput realitas pergaulan sosial pada masa periode yang kritis--terutama bagaimana proses demokrasi itu harus ditegakkan tidaklah jatuh dari langit, tetapi penuh pengorbanan dengan darah dan api. Kaoem Merah atelah memberitahukan kepada pembacanya bahwa zaman telah berubah, dan perubahan zaman ini perlu diantisipasi dengan ilmu-pengetahuan yang cukup dikalangan pergerakan. Atau dengan pernyataan yang senada, "kejakinan mareka itoe melawan ilmoe kapitalisme aken diganti, atau mendatengkan doenia Communisme". Lebih lanjut, "kaoem pergerakan haroes membatja soerat-soerat chabar S.R. dan Api jang dikeloearken oleh orang-orang jang aken merobah doenia kapitalisme mendjadi doenia Communisme."183)Sehingga nampak jelas kaoem kolot yang dimaksudkan di atas adalah golongan yang menentang perubahan zaman. Pengetahuan yang diperoleh Rangsang untuk menyusun Kaoem Merah dengan pembacaannya terhadap asal-usul pergerakan buruh di Eropa yang dipimpin oleh Karl Marx pada abad ke-19: Atas ia poenja ichtiar dalem tahoen 1864 di London telah berdiriken satoe Internasionale Arbeiders Associate atau perserikatan kaoem boeroeh oemoem, jang bermaksoed aken mengoempoelken semoea kaoem proletariers di segenap doenia. Jang membikin statuten dari itoe perserikatan adalah Marx dan segala pemberian tahoean jang goena kaoem pekerdjaan selaloe dimoelai dengen perkataan: ''Hei kaoem proletariers dari semoea negeri berserikatlah kamoe.'' 184)Kalau kita intrograsi penterjemahan "kaum buruh sedunia bersatu-lah" menjadi "Hei kaoem proletariers dari semoea negeri berserikatlah kamoe," nampaknya selain suasana atau semangat jaman yang berbeda, namun dipihak lain Rangsang ingin menonjolkan karakter pergerakan rakyat yang demokratis, hal ini ditunjukkan ia menggunakan istilah proletariers yang maknanya sangat demokratis.185) Hal penting adalah tulisan Salimoen tentang Intellectueelen yang intisarinya adalah: "Lain daripada itoe intellectueelen! Ketahoeilah bagimoe, bahwa didoenia ini berisi beroepa-roepa kapitaal jang berpengaroeh, sedang kapitaal-kapitaal itoe sama bertjepat-tjepatan membesarkan pengaroehnja. Barang siapa mempoenjai pengaroeh jang terbesar, maka ialah jang akan mendjadi radja doenia." 186)Kalau kita perhatikan secara teliti satu-persatu bacaan (literatuur socialistisch) yang diproduksi oleh pemimpin pergerakan dibawah naungan Komissi Batjaan Hoofdbestuur PKI, semuanya mengaspirasikan kepada para pembacanya (audience) pengetahuan, gagasan demokrasi, seperti vergadering (rapat umum), perdebatan, hak berserikat. Dan yang terpenting produksi bacaan ini mengajarkan kepada pembacanya bahwa politik itu adalah untuk semua lapisan masyarakat: "Oleh karena itoe, maka kemerdeka'an politiek haroes dikedjar oleh segenap Ra'jat Indonesia, kalau mereka maoe hidoep senang."187) Semua novel atau bacaan untuk kaum buruh ini ditulis oleh klas menengah yang mempunyai simpati dan mempunyai keterlibatan dengan aktivitas gerakan buruh. Tulisan ini adalah untuk memberikan pemahaman kepada kaum buruh tentang hubungan-hubungan produksi sosial kapitalisme. Sebagaimana Raymond Williams menegaskan: "The argument is precisely challenged at that point, for socialism is not really to do with that. It is to do with understanding social relations, understanding the system. If experience alone will not teach, then experience and teaching will teach. 188)Produksi "bacaan liar" mempunyai pengaruh besar baik terhadap pendukungnya maupun terhadap negara kolonial. Bagi para pendukungnya, mereka tidak perlu khawatir untuk menyatakan pendapatnya dalam rapat umum dan kaum buruh mendapatkan pengetahuan serta peng-absahan untuk melakukan pemogokan. Pada tahun 1924-25 hampir setiap hari terjadi pemogokan di kota-kota industri di Jawa--terutama Semarang dan Surabaya. Keberanian kaum buruh untuk melakukan tindakan pemogokan dipengaruhi oleh pemogokan yang berlangsung di China, dan terlebih dengan beredarnya buku Pemogokan Besar di Shanghai.189) Sebaliknya negara kolonial menanggapi peredaran produksi bacaan ini dengan memukul sumbernya, namun untuk langsung menghantam sumber produksi "bacaan liar" negara kolonial harus mempunyai dalih yang kuat. Untuk kebutuhan itu diperlukan memanaskan situasi pergerakan dengan cara memberhentikan dan melarang vergadering dan menangkap serta membuang para jurnalis yang dianggap menghasut dan menyiarkan kabar bohong. Selain itu yang juga penting untuk diperhatikan negara kolonial dengan sengaja mendirikan organ-organ baru yang cukup segar untuk melawan arus "bacaan liar", seperti surat Kabar Hindia Baroe yang dibiayai sepenuhnya oleh Suikersyndikaat, disini para penulisnya adalah Agoes Salim cs.190) Dalam satu kesempatan Agoes Salim menulis tentang pemogokan para pegawai rumah sakit umum (CBZ) di Semarang, menurut Agoes Salim pemogokan itu tidak perlu terjadi kalau seandainya ada kemulian dari pengelola rumah sakit, tetapi menurut Darsono pengamatan seperti seorang "Hadji berhati moelia tetapi menghapoesi keadaan kaoem boeroeh." Selanjutnya tanggapan tidak datang dari Agoes Salim sendiri, melainkan organ lain yang juga baru dibentuk oleh negara kolonial, yakni Algemeen Indisch Dagblad dan Nieuw Soerabaja Courant, kedua surat kabar ini mendakwa Darsono sebagai achter de schermen191) (orang dibelakang layar) dari pemogokan-pemogokan Serikat Boeroeh Pelaboehan dan pegawai ruma sakit umum di Semarang. Berdasarkan tuduhan ini Darsono dikenakan exorbitante rechten. Dan mulai 6 Agustus 1925 negara kolonial memberlakukan pembatasan rapat umum melalui artikel 161 bis, dan sebaliknya tindakan ini disambut oleh para pemimpin pergerakan yang sebenarnya telah terpecah-pecah untuk melakukan pemogokan secara besar-besaran sebagaimana Kadarisman sendiri menyatakan: "De Staking zal zich nog altijd uitbreiden, zoolang het kapitalisme de arbeiders harnekkig uitbuiten uitmergelt, welke uitbuitingen uitmergelling de arbeiders tot ontervrendenheld aanspoort." (Pemogokan akan terus menjalar, selama kapitalisme menghisap dan memeras kaoem boeroeh, sementara penghisapan dan pemerasan itoe membangkitkan hatinya kaum buruh, yang pada akhirnya mengambil sikap mogok karena nasibnya yang terpojok). Lebih lanjut ia menegaskan "De externeering versterkt de leiding in organisatie" (Pembuangan menguatkan pimpinan organisasi). 192)Dalam situasi yang memakin memanas ini, dimana delikpers semakin diperkuat, rapat umum diberhentikan dan diperkacau dengan mempergunakan bom yang jelas pelakunya para polisi, keadaan ini tidak memperlemah jalannya pergerakan rakyat, tetapi malah sebaliknya. Sementara itu terjadi pergeseran acuan pengetahuan para pemimpin pergerakan, yang sebelumnya mengacu pada revolusi Rusia, sekarang bergeser ke pergerakan di Tiongkok. Marco Kartodikromo muncul kembali dan memimpin rapat-rapat umum serta pertemuan di sekitar Jawa Tengah. Pada rapat umum yang diselenggarakan pada 2 Februari 1925 di gedung pertunjukan wayang orang Purwaodinigratan (Solo), Marco memutuskan untuk menyuarakan PKI dari partai kader ke partai massa. Dan bersamaan dengan kepemimpinan pusat PKI mulai mengkampanyekan dukungan "revolusi Tiongkok". Pada rapat umum 19 Juli 1925 yang dihadiri oleh beberapa organisasi Tionghoa peranakan seperti Kong Sing, Komite sumbangan insiden Shanghai, Tiong Hoa Hwee Kwan, Marco bersama Alimin dan Njo Joe Tik dari Kongsing menegaskan mendukung pergerakan revolusioner di China. Dalam rapat umum tersebut secara terang-terangan mereka menyatakan bahwa Republik Cina Selatan yang dipimpin oleh mendiang Dr. Sun Yat Sen, dan kawan-kawan partai Kuo Min Tang yang revolusioner akan mengusir imperialisme-imperialisme yang bercokol di seantero Tiongkok.193) Dan agar buku, novel bacaan liar ini tidak direproduksi, maka pemerintah kolonial mengambil tindakan untuk merampas buku-buku tersebut di toko-toko, yang kebanyakan dibakar oleh pemerintah kolonial, sehingga buku, novel dan bacaan liar lainnya sulit ditemukan pada dewasa ini.194) Keberhasilan rapat umum ini terutama para propagandis berhasil meyakinkan bahwa untuk mengusir kekuasaan Belanda diperlukan kekuatan bersenjata, sebagaimana juga dilancarkan di Tiongkok. Di mana dalam rapat umum di atas juga dinyatakan bahwa barisan Kuo Min Tang memperoleh kemenangan, karena semakin lama Ra'jat makin terbuka matanya oleh pelajaran Dr. Sun almarhum--terutama para pemuda tamatan sekolah tinggi, banyak yang masuk menjadi tentara dengan kemauannya sendiri. Kemudian Dr. Sun Yat Sen mendirikan universitas "Whampoa" untuk mendidik "officier-officier jang gagah berani. Moelai saat itoelah makin hari tjahaja kemenangan barisan Dr. Sun Yat Sen makin menjala."195) Proses inilah yang menyebabkan pergerakan Ra'jat bumiputra dan Tionghoa di Hindia dapat seiring sejalan dan dalam hal bacaan pun keduanya saling menyokong. Contoh yang baik surat kabar Sin Po memberikan catatan nama-nama surat kabar Belanda yang netral dan reaksioner sehubungan dengan situasi pergerakan yang makin memanas. Sin Po menunjukkan bahwa surat kabar De Locomotief (Semarang), Indische Courant (Batavia dan Surabaya), Preanger Post (Bandung) dan De Indische Telegraaf (Bandung) adalah surat kabar yang netral terhadap pergerakan. Sedangkan yang reaksioner adalah Het Nieuws (Batavia), Algemeen Indisch Dagblad (Bandung), Nieuwe Soerabaja Courant (Surabaya), Soerabaja Handelsblad (Surabaya), Java Bode (Batavia).196) Sebaliknya surat kabar bumiputra yang berpihak kepada pergerakan Tiongkok membantah berita-berita bohong yang masuk ke Hindia Belanda--terutama yang disiarkan oleh surat kabar Algemeen Indisch Dagblad yang memberitakan revolusi di Tiongkok adalah sebuah bentuk terorisme, karena kaum revolusioner di Tiongkok melakukan pembunuhan polisi Inggeris di Shanghai.197) Kalau kita interpretasikan pernyataan AID ingin mengatakan bahwa imperialisme Ingggeris tidaklah begitu buruk, malah sebaliknya kaum revolusioner yang berkelakuan kejam. Sama halnya dengan kelakuannya Java Bode yang menuduh kaum Komunis di Tjiamis memperoleh perintah dari Hoofdbestuut PKI di Batavia untuk bekerja keras dan jika perlu membakar rumah-rumah para ambternaar dan merusak jembatan. Provokasi Java Bode ini kemudian dibantah oleh Moesso: "Itoelah sifatnya klas jang maoe hantjoer sendiri! Karena tidak bisa bertanding lagi dengan kebenaran, laloe menggoenakan kedoesta'an dan tipoean." Lebih lanjut ia menegaskan: Saudara-saudara Kommunist haroes bekerdja lebih keras poela, soepaja soerat-soerat kabar kita bisa dibatja di mana-mana tempat. Begitoe djoega boekoe-boeko kita haros dibatja di kampoeng-kampoeng dan desa-desa, soepaja Ra'jat tidak teroes-meneroes disesatkan pikirannja. Pengaroehnja pers kapital dan boekoe-boekoenja kapital soenggoehlah tidak ketjil. Apabila kita tidak bisa melepaskan pikiran Ra'jat dari pengaroeh kapital, kitapoen ta' akan bisa menghantjoerkan kapitalisme. 198)Untuk membantah penegasan-penegasan semacam ini Nieuw Soerabaja Courant melakukan provokasi kepada pimpinan sentral partai, bahwa tanggal 22 Juli 1925 telah diadakan pertemuan penting yang dihadiri oleh para pejabat kolonial termasuk gubernur jendral. Pertemuan ini membicarakan langkah-langkah apa yang diambil untuk menindak kaum Komunis, dan hal lain yang cukup penting mengambil sikap terhadap "extremisten" (kaoem revolusioner) Tionghoa. Dengan maksud yang sama AID bersama Katholiek Sociale Bond di Bandung menyelenggarakan pertujukkan toonneel yang mengambil tema Degefopte Kommunist (Komunis yang tertipu). Dengan demikian peran bacaan tidak terbatas semata-mata untuk menyebarkan ide-ide, pendidikan politik dan merangkul sekutu-sekutu politik. Makna dan nilai dari sebuah bacaan bukan sekedar sekumpulan propagandis dan agitator, akan tetapi juga sekumpulan organisatoris. Dalam pengertian, bagaikan tembok yang bersemen kuat di satu bangunan, yang dapat memperkuat struktur bangunan organisasi, memfalitisasi komunikasi di antara kaoem kromo, mempermudah mereka membagi-bagi kerja organisasi, dan memandang hasil bersama yang mereka capai dengan tenaga kerja yang terorganisir. Bantuan dari, dan dalam hubungannya dengan bahan bacaan (koran, novel dan bentuk cetakan lainnya): secara otomatis akan mengembangkan satu organisasi permanen, yang akan mengajak bukan saja aktivitas-aktivitas lokal, akan tetapi juga aktifitas-aktifitas umum secara tetap, melatih anggota-anggotanya secara hati-hati dan mengamati kejadian-kejadian politik, menilai signifikansi dan pengaruh mereka yang ditempatkan di kalangan berbagai lapisan penduduk, serta memikirkan alat yang tepat bagi partai revolusioner agar dapat mempengaruhi peristiewa-peristiwa tersebut. 199) Tugas teknis itu sendiri--untuk menjamin distribusi tetap lembar demi lembar bahan bacaan secara tepat. Hal ini diperlukan untuk menciptakan satu jaringan agen-agen lokal satu partai, agen-agen ini harus menghidupkan kontak satu sama lain, yang akan diperkenalkan dengan keadaan umum peristiwa-peristiwa yang terjadi. Sehingga akan terbiasa menganalisa situasi politik yang konkrit. Dengan terciptanya pengkondisian semacam ini, negara kolonial memandang sudah saatnya untuk menghancurkan pergerakan berserta institusinya--yakni produksi "bacaan liar," sebagaimana A.E. Van der Lely kepala departement intelegent negara kolonial Hindia Belanda menegaskan setelah "pemberontakan" berhasil dihancurkan: "What has happened has, according to my opinion, made it clear it is absolutely necessary for the Goverment to take strong measures especially against those who feel themselves called upon to introduce into this country the system of propaganda...." --oo0oo-- | |
|
| Selected-Works Page | Library | Essays | Snapshots | Inside Factory | Tempo-Doeloe Page | | |